COP30 yang berlangsung di Brasil menjadi ajang penting dalam membahas pendanaan iklim sebagai solusi bagi negara berkembang dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Negara-negara berkembang yang sering kali lebih rentan terhadap perubahan iklim memerlukan dukungan finansial untuk transisi menuju energi yang lebih bersih dan mengatasi dampak dari bencana yang ditimbulkan perubahan iklim. Artikel ini akan membahas bagaimana pendanaan iklim menjadi faktor penting bagi negara berkembang dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Pembahasan Pendanaan Iklim Global di COP30 dan Harapan Brasil
Pada COP29 yang diselenggarakan di Azerbaijan tahun lalu, terjadi perdebatan sengit antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang. Namun, akhirnya negara-negara kaya berjanji untuk menyediakan dana sebesar US$ 300 miliar (Rp 4.846,9 triliun) per tahun pada 2035 untuk membantu dalam pendanaan perubahan iklim. Meskipun angka ini tiga kali lipat lebih besar dari target sebelumnya sebesar US$ 100 miliar (Rp 1.615,63 triliun), jumlah ini masih jauh dari yang dibutuhkan. Karna, untuk pendanaan ini memerlukan sekitar US$ 1,3 triliun per tahun untuk pendanaan iklim.
Andre Correa do Lago, Presiden COP30, menyatakan bahwa mencapai US$ 300 miliar sulit tanpa kehadiran Amerika Serikat dalam negosiasi. Ia menambahkan bahwa di bawah Presiden Joe Biden, AS telah mengimplementasikan kebijakan baru untuk mengatasi perubahan iklim dan memperkuat peran lembaga multilateral, seperti Bank Dunia, dalam mendanai proyek perubahan iklim (Sumber: Katadata Green, 2025).
Namun, Correa do Lago mengingatkan bahwa tanpa kebijakan yang lebih kuat dan komitmen besar dari negara-negara maju, upaya untuk meningkatkan pendanaan iklim akan semakin sulit untuk tercapai.
Tantangan Perubahan Iklim bagi Negara Berkembang
Negara-negara berkembang menghadapi tantangan ganda ketika berhadapan dengan perubahan iklim. Di satu sisi, mereka berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sementara di sisi lain, mereka harus mengatasi dampak buruk dari perubahan iklim yang semakin intens, seperti banjir, kekeringan, badai, dan meningkatnya permukaan air laut. Semua dampak ini mengancam sektor-sektor vital seperti pertanian dan infrastruktur yang mendukung kehidupan sehari-hari masyarakat.
Contohnya, negara-negara di kawasan Afrika, Asia, dan Amerika Latin, sering kali memiliki keterbatasan kapasitas dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Infrastruktur yang kurang memadai dan kurangnya dana menyebabkan mereka lebih rentan terhadap bencana alam dan dampak negatif lainnya.
Baca Juga: Peran Sentral dalam Perubahan Iklim: Karbon dan Masa Depan Bum
Peran BRICS dalam Mendukung Negara Berkembang dan COP30
Brasil berharap kelompok BRICS, yang meliputi Brasil, Cina, dan negara berkembang lainnya, dapat memperkuat posisi negara berkembang dalam perundingan pendanaan iklim. Sebagai ketua BRICS tahun ini, Correa do Lago bertekad membangun konsensus dan memperjuangkan kontribusi lebih besar dari negara kaya. “Kami akan terus berusaha di BRICS untuk mendapatkan konsensus dan memulai diskusi relevan dalam mendukung negara berkembang,” kata Correa do Lago (Sumber: Katadata Green, 2025).
Baca Juga: Jejak Karbon: Kenapa Penting Bagi Kita untuk Peduli?
Dengan begitu negara yang masih berkembang ini diharapkan tetap bersatu mendukung pendanaan iklim global dan berjuang agar negara kaya, penyumbang emisi terbesar, memberikan lebih banyak kontribusi finansial. Negara-negara Eropa belakangan ini mendesak negara berkembang seperti Cina dan negara-negara Teluk yang kaya untuk berkontribusi lebih besar. Cina, sebagai penghasil gas rumah kaca terbesar, sering disorot. Correa do Lago menegaskan, “Negara maju ingin mengurangi kontribusi finansial mereka, ini adalah pandangan keliru” (Sumber: Katadata Green, 2025).

Investasi Negara Berkembang dan Kontribusi Cina dalam Pendanaan Iklim
Selain meminta bantuan eksternal, negara yang masih berkembang ini juga berusaha membiayai sendiri sebagian besar upaya mereka dalam mitigasi perubahan iklim. Correa do Lago juga memberikan penghargaan terhadap upaya yang telah dilakukan mereka. Sebagai contoh, Brasil telah berhasil mengurangi deforestasi yang merupakan salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca. Sementara itu, Cina telah menginvestasikan triliunan dolar untuk teknologi energi bersih, yang tidak hanya memberikan manfaat bagi Cina tetapi juga bagi negara berkembang lainnya.
Baca Juga: Dekarbonisasi: Solusi Efektif untuk Mengurangi Polusi Udara
Bersama ImpactLabs, Wujudkan Masa Depan Berkelanjutan untuk Bisnis Anda!
Kami di ImpactLabs siap membantu perusahaan Anda menghadapi tantangan perubahan iklim dengan solusi keberlanjutan yang terintegrasi. Dengan layanan Sustainability Consulting kami, Anda dapat mengidentifikasi peluang strategis untuk pengurangan emisi karbon, optimalisasi rantai pasok, dan pengelolaan sumber daya secara efisien.
Jangan tunda langkah Anda menuju bisnis yang lebih hijau dan bertanggung jawab. Hubungi ImpactLabs sekarang juga dan jadilah bagian dari perubahan global menuju keberlanjutan!
Kesimpulan
Pendanaan iklim adalah solusi utama untuk menghadapi perubahan iklim. Dengan pendanaan yang cukup, mereka dapat melaksanakan proyek mitigasi dan adaptasi serta meningkatkan ketahanan terhadap bencana alam. COP30 Brasil diharapkan membawa kemajuan dalam pendanaan iklim global, dengan Brasil memperjuangkan hak negara berkembang untuk kontribusi lebih besar dari negara kaya. Dengan begitu mereka harus terus berjuang untuk pendanaan iklim yang adil demi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.